bismillah
Zona Kedokteran
Dokumentasi seputar Medis
Tuesday
Anafilaksis syok | Tatalaksana
bismillah.
Anafilaksis syok
bagaimana pemberian adrenalin pada kasus anafilaktik syok menurut Guideline evedence based medicine ?
Pemberian adrenalin (epinefrin) merupakan terapi lini pertama (first-line) dan paling krusial pada tatalaksana syok anafilaktik. Berdasarkan evidence-based medicine (pedoman EAACI, WAO, dan Resuscitation Council UK), adrenalin harus diberikan segera setelah anafilaksis terdiagnosis untuk mencegah henti jantung dan gagal napas.
Rute dan Lokasi Pemberian
Rute Utama: Intramuskular (IM).
Pemberian IM terbukti memiliki tingkat keamanan tinggi serta penyerapan puncak (peak absorption) yang jauh lebih cepat dibandingkan rute subkutan atau IV perifer. Lokasi Injeksi: Anterolateral paha tengah (otot vastus lateralis). Hindari pemberian pada otot bokong (gluteus) atau lengan atas karena penyerapan obat kurang optimal.
Dosis Adrenalin Sediaan Standard (1:1.000 atau 1 mg/mL)
| Kelompok Usia / BB | Dosis Adrenalin (IM) | Sediaan Auto-injector |
| Dewasa & Remaja (>12 thn / >30 kg) | 0,3 – 0,5 mg (0,3 – 0,5 mL) | Auto-injector 0,3 mg |
| Anak (6 – 12 tahun) | 0,3 mg (0,3 mL) | Auto-injector 0,3 mg |
| Anak (6 bulan – 6 tahun) | 0,15 mg (0,15 mL) | Auto-injector 0,15 mg |
| Bayi (<6 bulan / <7,5 kg) | 0,01 mg/kgBB (cth: 0,05–0,1 mg) | Sediaan vial 1 mg/mL |
Frekuensi dan Evaluasi Dosis
Pengulangan: Jika tidak ada perbaikan klinis (hipotensi, sesak napas, atau gangguan jalan napas berlanjut), dosis IM dapat diulang setiap 5–15 menit.
Sebagian besar pasien membaik dengan 1–2 dosis pertama, namun pemberian dapat diulang sesuai respons klinis pasien.
Ketentuan Khusus Pemberian Intravena (IV)
HANYA untuk fasilitas perawatan intensif (ICU/ICCU/ER) yang dipandu tim ahli.
Indikasi rute IV: Pasien syok berat/refrakter yang tidak merespons pengulangan injeksi IM atau pasien yang mengalami henti jantung.
Dosis IV memerlukan pengenceran menjadi 1:10.000 (atau kontinu titrated infusion) dengan pemantauan ketat elektrokardiogram (EKG) dan tekanan darah untuk mencegah aritmia berat atau krisis hipertensi.
Tindakan Suportif Pendamping
Posisi Pasien:
Baringkan terlentang dengan posisi kaki ditinggikan (posisi Trendelenburg) untuk meningkatkan venous return. Jangan mendudukkan atau mendirikan pasien secara mendadak. Oksigenasi:
Berikan oksigen aliran tinggi (10–15 L/menit via non-rebreathing mask). Resusitasi Cairan: Berikan infus kristaloid (NaCl 0,9%) bolus cepat jika timbul hipotensi berat.
Friday
Insulin Ryzodeg | profile
bismillah.
Tentang 'Insulin Ryzodeg' ?
Insulin Ryzodeg termasuk dalam jenis insulin ko-formulasi (kombinasi) yang terdiri dari dua jenis insulin analog:
Insulin Degludec (70%): Insulin basal dengan kerja ekstra panjang (ultra-long acting) yang memberikan kendali gula darah stabil sepanjang hari.
Insulin Aspart (30%): Insulin prandial dengan kerja cepat (fast/rapid acting) yang mengendalikan lonjakan gula darah setelah makan.
Ryzodeg digunakan untuk memberikan cakupan insulin basal sekaligus insulin saat makan hanya dalam satu kali suntikan.
berapa unit dosis inisial terapi ryzodeg pada pasien DM2 ?
Dosis inisial (awal) Ryzodeg pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) bergantung pada riwayat penggunaan insulin sebelumnya:
Pasien Belum Pernah Terapi Insulin (Insulin-Naïve): Dosis awal yang direkomendasikan adalah 10 unit per hari, diberikan 1 kali sehari bersamaan dengan makan utama (biasanya makanan terbesar dalam sehari).
Pasien Beralih dari Terapi Insulin Lain (Switching):
Beralih dari insulin basal 1 kali sehari atau insulin premix: Dapat dimulai dengan dosis unit-ke-unit (unit-to-unit transfer) yang sama dengan dosis total insulin sebelumnya, lalu disesuaikan secara bertahap.
Beralih dari insulin basal 2 kali sehari atau regimen basal-bolus: Dosis awal biasanya diturunkan sekitar 20% dari total dosis harian sebelumnya untuk mengurangi risiko hipoglikemia, kemudian dititrasi sesuai kebutuhan.
Tuesday
Limfopenia pd Sepsis
Bismillah.
apakah limfopenia dapat terjadi pada kondisi sepsis ?
Limfopenia pada Sepsis
Ya, limfopenia sangat umum terjadi pada sepsis, bahkan dianggap sebagai salah satu penanda (marker) khas dan penting dalam patofisiologi sepsis, terutama sepsis berat.
Mengapa Limfopenia Terjadi pada Sepsis?
1. Apoptosis limfosit masif
- Ini adalah mekanisme utama
- Sepsis memicu apoptosis (kematian sel terprogram) besar-besaran pada limfosit T (CD4+ dan CD8+), limfosit B, dan sel dendritik
- Terjadi melalui jalur intrinsik (mitokondria) dan ekstrinsik (reseptor kematian seperti Fas/FasL)
2. Redistribusi limfosit
- Limfosit bermigrasi dari sirkulasi darah ke jaringan yang mengalami inflamasi/infeksi (marginasi dan ekstravasasi)
3. Penurunan produksi limfosit
- Supresi sumsum tulang akibat mediator inflamasi
4. Efek kortisol/glukokortikoid endogen
- Stres berat pada sepsis meningkatkan kortisol, yang bersifat limfotoksik
5. "Immunoparalysis" atau imunosupresi sepsis
- Fase lanjut sepsis sering ditandai oleh keadaan hipo-imun/imunosupresi, di mana limfopenia menjadi salah satu komponen utamanya
Signifikansi Klinis
1. Nilai prognostik
- Limfopenia persisten (terutama bila menetap >4 hari) berkaitan dengan peningkatan risiko mortalitas
- Semakin rendah dan semakin lama limfopenia berlangsung, semakin buruk prognosisnya
2. Peningkatan risiko infeksi sekunder
- Pasien menjadi lebih rentan terhadap infeksi nosokomial atau reaktivasi infeksi laten (misalnya CMV, herpes zoster)
3. Bagian dari sepsis-induced immunosuppression
- Konsep ini menjelaskan mengapa banyak pasien sepsis yang bertahan dari fase awal (hiperinflamasi) justru meninggal di fase lanjut akibat infeksi sekunder atau kegagalan organ, bukan karena badai sitokin awal
4. Digunakan sebagai biomarker
- Rasio neutrofil-limfosit (NLR) sering digunakan sebagai indikator keparahan sepsis dan prediktor outcome
- Limfopenia absolut (biasanya <1000/µL, bisa jauh lebih rendah pada kasus berat) sering ditemukan pada evaluasi laboratorium sepsis
Catatan Klinis
Limfopenia pada sepsis berbeda dengan leukositosis yang sering terjadi bersamaan — total hitung leukosit bisa saja meningkat (didominasi neutrofil) sementara subset limfosit justru menurun. Karena itu, hitung jenis leukosit (differential count), bukan hanya total WBC, penting untuk menilai status imun pasien sepsis.
Sunday
Manifestasi Trombositosis
Bismillah.
apa penyebab trombositosis reaktif ? dan apa manifestasi klinis yg bisa dibaca pada kondisi itu ?
Trombositosis Reaktif (Sekunder)
Trombositosis reaktif adalah peningkatan jumlah trombosit (>450.000/µL) yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi lain, bukan akibat kelainan primer sumsum tulang (seperti pada trombositemia esensial).
Penyebab Utama
1. Infeksi
- Infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit akut maupun kronis
- Trombosit adalah reaktan fase akut, sehingga meningkat sebagai respons inflamasi
2. Inflamasi kronis / penyakit autoimun
- Rheumatoid arthritis
- Inflammatory bowel disease (Crohn's disease, kolitis ulseratif)
- Vaskulitis
- Penyakit jaringan ikat lainnya
3. Kehilangan darah (perdarahan akut)
- Trauma
- Perdarahan gastrointestinal
- Pasca operasi
4. Anemia defisiensi besi
- Salah satu penyebab paling umum, terutama pada anak-anak
5. Kondisi pasca-splenektomi atau asplenia fungsional
- Limpa normalnya menyaring trombosit tua; tanpa limpa, trombosit menumpuk di sirkulasi
6. Keganasan (kanker)
- Terutama kanker paru, gastrointestinal, ginekologi
- Bisa jadi tanda paraneoplastik
7. Kondisi lain
- Pasca operasi besar (respons stres/inflamasi)
- Latihan fisik berat
- Rebound setelah trombositopenia (misalnya setelah kemoterapi atau konsumsi alkohol berlebihan yang dihentikan)
- Penggunaan obat tertentu (misalnya vincristine, epinefrin)
- Penyakit Kawasaki (pada anak)
- Hemolisis
Manifestasi Klinis
Penting dicatat: trombositosis reaktif umumnya asimtomatik dan jarang menyebabkan komplikasi trombosis atau perdarahan, berbeda dengan trombositosis primer (trombositemia esensial) yang lebih berisiko.
Gejala/tanda yang mungkin muncul, biasanya berkaitan dengan penyakit dasarnya, bukan trombositosisnya sendiri:
- Gejala penyakit primer — demam (infeksi), nyeri sendi (autoimun), penurunan berat badan (keganasan), pucat dan kelelahan (anemia defisiensi besi)
- Splenomegali — jika penyebabnya inflamasi kronis atau keganasan (bukan pasca-splenektomi)
- Tanda perdarahan akut — jika penyebabnya kehilangan darah
- Risiko trombosis — jarang terjadi pada trombositosis reaktif murni, kecuali jika disertai faktor risiko tambahan (imobilisasi lama, riwayat trombosis, kondisi hiperkoagulasi lain), terutama pada kadar trombosit sangat tinggi (>1.000.000/µL)
- Asimtomatik — banyak kasus ditemukan secara insidental saat pemeriksaan darah rutin
Friday
Klasifikasi CCB
bismillah
Penggolongan CCB
kenapa sih harus digolongkan dihidropiridin dg non-dihidropiridin ?
Penggolongan Dihidropiridin (misal: Nicardipin, Amlodipin, Nifedipin) dan Non-Dihidropiridin (misal: Diltiazem, Verapamil) dilakukan karena keduanya memiliki struktur kimia, lokasi kerja utama (target organ), dan dampak klinis yang sangat berbeda pada tubuh, meskipun sama-sama menghambat kanal kalsium.
Perbedaan Utama Target dan Efek Klinis
| Parameter | Dihidropiridin (DHP) | Non-Dihidropiridin (Non-DHP) |
| Lokasi Kerja Utama | Otot polos pembuluh darah (Arteri) | Otot jantung & Nodus listrik jantung (SA/AV Node) |
| Efek pada Pembuluh Darah | Vasodilatasi Sangat Kuat (Melebarkan arteri secara signifikan) | Vasodilatasi Sedang |
| Efek pada Pompa Jantung | Hampir tidak menekan fungsi kontraksi jantung | Menekan kontraksi jantung (Inotropik Negatif) |
| Efek pada Denyut Jantung | Tidak menekan nodus jantung (bisa memicu refleks takikardia) | Menurunkan denyut jantung (Kronotropik Negatif) |
Alasan Penggolongan Ini Sangat Penting secara Medis
Mempermudah Penentuan Indikasi Utama:
DHP (Nicardipin, dll): Berfokus penuh untuk penurunan tekanan darah secara agresif dan penanganan krisis hipertensi karena sifatnya yang murni melebarkan pembuluh darah.
Non-DHP (Diltiazem/Verapamil): Digunakan ketika dokter ingin menurunkan tekanan darah sekaligus memperlambat denyut jantung pasien (misalnya pada pasien gangguan irama jantung/aritmia atau nyeri dada angina).
Mencegah Bahaya Kontraindikasi Fatal:
Jika pasien mengalami Gagal Jantung atau Nadi Sangat Lambat (Bradikardia), pemberian obat golongan Non-DHP bisa membahayakan jiwa karena akan makin menekan fungsi jantung. Dalam kondisi ini, golongan DHP jauh lebih aman digunakan.
Sebaliknya, jika pasien mengalami takikardia (nadi sangat cepat), obat DHP tertentu bisa memperparah refleks takikardia, sehingga Non-DHP lebih dipertimbangkan.
Interaksi Obat yang Berbeda:
Obat Non-DHP (terutama Verapamil dan Diltiazem) menghambat enzim hati (CYP3A4) jauh lebih kuat dibanding DHP, sehingga risiko interaksi dengan obat lain (seperti Statin atau Digoksin) jauh lebih tinggi.
Overview Nicardipin
bismillah.
bagaimana kerja obat nicardipin? -Golongan CCB-
'nice-to-know' Diltiazem | Farmabes jg Golongan CCB
Nicardipin adalah obat antihipertensi golongan penghambat kanal kalsium (calcium channel blocker atau CCB) subkelas dihidropiridin.
Cara kerja utamanya difokuskan pada pembuluh darah arteri, yaitu dengan menghambat masuknya ion kalsium ke dalam sel otot polos pembuluh darah.
Mekanisme Kerja Bertahap
Penghambatan Kanal Kalsium Tipe-L: Nicardipin menghambat masuknya ion kalsium (Ca2+) ekstraseluler melalui saluran kalsium tipe-L pada sel otot polos pembuluh darah dan otot jantung.
Relaksasi Otot Polos (Vasodilatasi): Karena ion kalsium dibutuhkan oleh otot polos untuk berkontraksi, berkurangnya kadar kalsium intraseluler menyebabkan otot polos pembuluh darah menjadi rileks dan melebar (vasodilatasi).
Penurunan Resistensi Vaskular: Pelebaran pembuluh darah arteri menurunkan hambatan aliran darah (resistensi perifer total), sehingga beban kerja jantung berkurang dan tekanan darah turun secara signifikan.
Karakteristik Utama Nicardipin
Selektivitas Vaskular Tinggi: Nicardipin jauh lebih aktif melemaskan pembuluh darah arteri (vaskuloselektif) dibandingkan mempengaruhi kontraksi otot jantung atau nodus Sinoatrial (SA)/Atrioventrikular (AV).
Efek pada Pembuluh Koroner dan Otak: Obat ini juga melebarkan arteri koroner dan arteri otak, sehingga meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jantung serta otak.
Penggunaan Klinis: Sering digunakan untuk mengatasi hipertensi darurat (hypertensive crisis), kontrol tekanan darah selama operasi, atau hipertensi persisten (dalam bentuk injeksi intravena maupun kapsul oral).
Perbandingan antara Nicardipin dan Diltiazem berakar pada subkelas obatnya masing-masing. Nicardipin adalah golongan dihidropiridin (fokus pada pembuluh darah), sedangkan Diltiazem adalah golongan non-dihidropiridin (fokus seimbang antara pembuluh darah dan nodus impuls/otot jantung).
Efektivitas Penurunan Tekanan Darah
Kecepatan dan Potensi Penurunan Tekanan Darah (Sistolik & Diastolik):
Nicardipin
memiliki efektivitas penurunan tekanan darah (blood pressure lowering efficacy) yang lebih kuat, cepat, dan terprediksi, terutama dalam kondisi darurat (hypertensive emergency/urgency). Selektivitasnya yang sangat tinggi pada pembuluh darah arteri membuat penurunan resistensi perifer terjadi secara efektif. Diltiazem
juga mampu menurunkan tekanan darah, tetapi potensinya secara langsung pada dilatasi arteri kurang kuat dibanding nicardipin. Diltiazem menurunkan tekanan darah dengan kombinasi efek vasodilatasi ringan-sedang serta penurunan curah jantung (cardiac output) dan denyut jantung.
Dampak pada Denyut Jantung (Heart Rate):
Nicardipin
dapat menyebabkan reflex tachycardia (peningkatan denyut jantung secara refleks sebagai respons terhadap turunnya tekanan darah yang cepat). Diltiazem
menekan nodus SA dan AV di jantung, sehingga cenderung menurunkan denyut jantung (bradikardia).
Kelebihan dan Kekurangan (Pros & Cons)
1. Nicardipin
Kelebihan (Pros):
Sangat Kuat untuk Hipertensi Akut/Krisis: Menjadi obat pilihan utama pada krisis hipertensi (misalnya pada kasus stroke iskemik/hemoragik, diseksi aorta, atau pasca-operasi bedah saraf) karena aksinya yang cepat dan mudah dititrasi.
Mempertahankan Curah Jantung: Tidak menekan fungsi pompa jantung (tidak ada efek inotropik negatif yang signifikan pada dosis terapi).
Melindungi Aliran Darah Organ: Meningkatkan aliran darah ke otak dan arteri koroner tanpa mengganggu denyut jantung secara langsung.
Kekurangan (Cons):
Refleks Takikardia: Dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung, sehingga kurang ideal jika pasien sudah mengalami takikardia berat.
Kurang Cocok untuk Aritmia: Tidak memiliki efek penstabil irama jantung (antiaritmia).
Efek Samping Vasodilatasi Perifer: Lebih sering menyebabkan pusing, kemerahan pada wajah (flushing), sakit kepala, dan edema (pembengkakan) pada tungkai.
2. Diltiazem
Kelebihan (Pros):
Efek Ganda (Kontrol Tekanan Darah + Denyut Jantung): Sangat berguna pada pasien hipertensi yang disertai takikardia atau gangguan irama jantung (seperti Atrial Fibrillation / AF).
Efektif untuk Angina: Memiliki efek anti-angina (nyeri dada) yang baik karena mengurangi beban kerja dan konsumsi oksigen otot jantung.
Efek Vasodilatasi Lebih Lembut: Risiko pusing mendadak, flushing, atau edema perifer relatif lebih rendah dibanding nicardipin.
Kekurangan (Cons):
Efektivitas Penurunan BP Akut Lebih Rendah: Kurang poten atau butuh waktu lebih lama untuk menurunkan tekanan darah pada kasus krisis hipertensi berat dibanding nicardipin.
Efek Inotropik & Kronotropik Negatif: Menekan fungsi pompa dan irama jantung. Kontraindikasi atau harus sangat berhati-hati pada pasien dengan gagal jantung (dengan fraksi ejeksi rendah) dan blok jantung (AV block).
Interaksi Obat: Cenderung memiliki interaksi metabolik (jalur enzim CYP3A4) yang lebih kompleks dengan obat-obatan lain.
Ringkasan Penggunaan Klinis
| Parameter | Nicardipin | Diltiazem |
| Grup CCB | Dihidropiridin | Non-Dihidropiridin |
| Kekuatan Penurunan BP | Sangat Kuat / Cepat | Sedang |
| Pengaruh Denyut Jantung | Meningkat/Stabil (Reflex Tachycardia) | Menurun (Bradycardia) |
| Indikasi Utama | Krisis hipertensi, stroke, kontrol BP operasi | Hipertensi + Takikardia/AF, Angina Pektoris |
| Kondisi yang Perlu Diwaspadai | Takikardia berat | Gagal jantung sistolik, AV Block / Bradikardia |
-
Disentri basilar atau Shigellosis adalah infeksi akut radang colon yg disebabkan kuman Shigella. Penyakit ini kadang bersifat ringan, kadan...
-
JANTUNG OH JANTUNG~ Okey kawan - kawan ku Asalamualaikum ^_^ kali ini senda mo bahas tentang Kelainan-kelainan yang menyebabkan murmur...
-
REVIEW RADIOLOGI Foto Thorax dinyatakan Cukup Inspirasi , jika terlihat gambaran costa VI (6) anterior memotong 'kubah/dome...



