Monday

Dosis Heparin pd NSTEMI

bismillah.


Berapa dosis pemberian heparin perkgBB untuk pasien dg NSTEMI ?

Dosis pemberian heparin pada pasien NSTEMI sangat bergantung pada jenis heparin yang digunakan. Secara medis, ada dua jenis heparin yang paling sering digunakan, dan masing-masing memiliki perhitungan dosis per kilogram berat badan (kgBB) yang berbeda.

Berikut adalah pedoman dosis standar berdasarkan panduan kardiologi internasional (seperti AHA/ACC dan ESC):

1. Unfractionated Heparin (UFH)

UFH diberikan langsung ke dalam pembuluh darah (intravena/IV). Karena efeknya sangat kuat dan cepat, pemberiannya dibagi menjadi dosis kejut (bolus) dan dosis tetes (infus).

  • Dosis Bolus (Suntikan awal): 60 unit/kgBB. (Dosis maksimal dibatasi hingga 4.000 unit untuk menghindari risiko perdarahan).

  • Dosis Infus (Tetes lanjutan): 12 unit/kgBB/jam. (Dosis maksimal dibatasi hingga 1.000 unit/jam).

Saat pasien menerima infus UFH, perawat akan mengambil sampel darah setiap 6 jam untuk memeriksa nilai aPTT (waktu pembekuan darah). Jika darah terlalu encer, kecepatan infus akan diturunkan, begitu pun sebaliknya.

2. Low Molecular Weight Heparin (LMWH)

Jenis LMWH yang menjadi standar utama untuk NSTEMI adalah Enoxaparin. Obat ini disuntikkan di jaringan lemak tepat di bawah kulit (subkutan), biasanya di area perut.

  • Dosis Standar: 1 mg/kgBB.

  • Frekuensi: Disuntikkan setiap 12 jam.

Berbeda dengan UFH, penggunaan Enoxaparin dosisnya lebih stabil dan biasanya tidak memerlukan pemeriksaan darah rutin setiap 6 jam.


Pasien CKD stg 4

Penyesuaian Dosis (Faktor Krusial) Dosis per kilogram di atas dapat diubah oleh dokter secara drastis apabila pasien memiliki kondisi penyerta, terutama fungsi ginjal. Jika pasien mengalami gagal ginjal kronis atau nilai Creatinine Clearance < 30 mL/menit, dosis Enoxaparin wajib dipotong menjadi 1 mg/kgBB setiap 24 jam (hanya satu kali sehari) karena ginjal yang rusak akan kesulitan membuang sisa obat dari dalam tubuh.


Heparin dan Streptokinase

Bismillah.


Seberapa efektifkan heparin dibanding streptokinase dalam penanganan kasus STEMI atau NSTEMI ?

Membandingkan efektivitas heparin dan streptokinase secara langsung sebenarnya kurang tepat, karena keduanya adalah jenis obat yang berbeda, dengan cara kerja yang berbeda, dan bukan untuk saling menggantikan.

Dalam penanganan serangan jantung, dokter tidak memilih "heparin atau streptokinase", melainkan menggunakan mereka sesuai dengan jenis serangannya.

Berikut adalah perbedaan mendasar dari kedua obat tersebut:









Bagaimana Keduanya Digunakan dalam Praktik?

1. Kasus STEMI (Penyumbatan Total)

Pada STEMI, pembuluh darah jantung tersumbat total oleh gumpalan darah.

  • Streptokinase akan disuntikkan untuk menghancurkan gumpalan darah tersebut agar aliran darah kembali terbuka. Ini disebut terapi fibrinolitik, dan sangat efektif jika diberikan dalam beberapa jam pertama setelah serangan (terutama jika rumah sakit tidak memiliki fasilitas pasang ring/PCI).

  • Heparin akan diberikan bersamaan atau setelah streptokinase. Mengapa? Karena setelah streptokinase menghancurkan gumpalan, area pembuluh darah yang robek masih berpotensi memicu pembentukan gumpalan darah yang baru. Heparin bertugas menjaga darah tetap encer agar gumpalan baru tidak terbentuk.

2. Kasus NSTEMI (Penyumbatan Sebagian)

Pada NSTEMI, pembuluh darah jantung hanya tersumbat sebagian, namun aliran darah tetap tidak stabil.

  • Heparin sangat efektif di sini. Heparin menjaga agar gumpalan darah yang menyumbat sebagian tersebut tidak bertambah besar menjadi penyumbatan total, sembari dokter merencanakan tindakan selanjutnya.

  • Streptokinase dilarang keras pada NSTEMI. Memberikan obat penghancur gumpalan darah sekuat streptokinase pada kondisi NSTEMI terbukti tidak memberikan manfaat, dan justru sangat berbahaya karena berisiko memicu perdarahan fatal di organ lain (seperti perdarahan otak) atau malah memperburuk kerusakan pada jantung.


Kesimpulan: Heparin dan streptokinase adalah tim yang bekerja sama pada kasus STEMI (satu menghancurkan, satu mencegah gumpalan baru). Namun pada kasus NSTEMI, hanya Heparin yang boleh digunakan.

Heparin pada NSTEMI

Bismillah.


Apakah STEMI atau NSTEMI bisa di berikan tatalaksana dg heparin ?

Ya, tentu saja. Heparin sangat bisa diberikan dan justru merupakan salah satu terapi standar utama dalam penatalaksanaan sindrom koroner akut, yang mencakup STEMI maupun NSTEMI.

Mengapa Heparin Diberikan?

Pada kondisi STEMI dan NSTEMI, terjadi robekan pada plak di dinding pembuluh darah koroner jantung yang memicu pembentukan gumpalan darah (trombus). Gumpalan darah inilah yang menyumbat aliran oksigen ke otot jantung.

Heparin bekerja sebagai antikoagulan (sering disebut pengencer darah) yang berfungsi untuk:

  • Mencegah gumpalan darah yang sudah menyumbat agar tidak bertambah besar.

  • Mencegah terbentuknya gumpalan darah baru di tempat lain.

Jenis Heparin yang Sering Digunakan

Terdapat dua jenis utama dari obat golongan heparin yang digunakan di rumah sakit:

  1. Unfractionated Heparin (UFH): Biasanya diberikan melalui suntikan langsung atau infus ke pembuluh darah (intravena). Efeknya sangat cepat dan mudah dikontrol, sehingga sering menjadi pilihan utama jika pasien akan segera menjalani prosedur kateterisasi dan pasang ring jantung (Percutaneous Coronary Intervention / PCI).

  2. Low Molecular Weight Heparin (LMWH): Contoh yang paling umum digunakan adalah Enoxaparin atau Fondaparinux. Biasanya disuntikkan di area perut, tepat di bawah kulit (subkutan). Obat ini sering digunakan untuk perawatan harian di ruang intensif karena dosis dan efeknya sangat stabil.

Penggunaan pada STEMI vs NSTEMI

Meski sama-sama menggunakan heparin, tujuannya sedikit disesuaikan dengan kondisi pasien:

  • Pada Pasien STEMI (Penyumbatan Total): Heparin diberikan sesegera mungkin bersama dengan obat antiplatelet (seperti Aspirin dan Clopidogrel/Ticagrelor). Heparin berfungsi sebagai terapi pendukung saat dokter akan melakukan Primary PCI (pasang ring segera) atau saat pasien menerima terapi obat trombolitik (penghancur gumpalan darah).

  • Pada Pasien NSTEMI (Penyumbatan Sebagian): Heparin diberikan sejak di IGD (fase akut) untuk menstabilkan kondisi pasien. Tujuannya adalah memastikan penyumbatan sebagian ini tidak berkembang menjadi penyumbatan total (STEMI), sambil menunggu jadwal tindakan kateterisasi jantung.

Catatan Medis Penting: Heparin adalah obat kategori high alert (berisiko tinggi) yang efek samping utamanya adalah perdarahan. Pemberian obat ini mutlak hanya boleh dilakukan di rumah sakit (seperti di IGD atau ICCU) di bawah pengawasan ketat dokter dan perawat, serta diiringi dengan evaluasi laboratorium darah secara berkala.

Dosis Heparin pada Emboli Paru

Bismillah.


Dosis terapi heparin UFH perkgbb per hari pada emboli paru?


Untuk penanganan emboli paru (PE) akut, Unfractionated Heparin (UFH) umumnya tidak diberikan dalam bentuk dosis tetap per hari seperti Low Molecular Weight Heparin (LMWH). UFH diberikan melalui protokol intravena (IV) kontinu yang dosisnya terus disesuaikan berdasarkan respons pengentalan darah pasien.

Berdasarkan pedoman standar klinis, berikut adalah dosis terapi UFH berbasis berat badan (per kgBB) untuk emboli paru:

Protokol Intravena (Standar Utama

Pengobatan emboli paru dengan UFH biasanya membutuhkan dua tahap:

  • Dosis Awal (Bolus): 80 IU/kgBB diberikan secara intravena sekaligus.

  • Dosis Lanjutan (Infus Kontinu): 18 IU/kgBB/jam.

Jika diakumulasikan, dosis infus lanjutan ini setara dengan 432 IU/kgBB per hari (18 IU x 24 jam)

Penyesuaian Dosis (Titrasi)

Karena respons setiap orang terhadap UFH sangat bervariasi, dosis lanjutan 18 IU/kgBB/jam tersebut wajib dievaluasi dengan tes darah aPTT (Activated Partial Thromboplastin Time) setiap 6 jam.

  • Target Terapi: Nilai aPTT harus berada di kisaran 1,5 hingga 2,5 kali lipat dari nilai kontrol normal

  • Tindakan: Jika aPTT di bawah target (darah masih terlalu kental), kecepatan infus per jam akan dinaikkan. Jika aPTT di atas target (risiko perdarahan tinggi), kecepatan infus per jam akan diturunkan atau dihentikan sementara.

Sunday

Pemberian Bikarbonat ( tanya AI )

bismillah 


bagaimana prinsip menghitung dan pemberian koreksi bikarbonat pada pasien dengan asidosis metabolik ?


Prinsip utama dalam tatalaksana asidosis metabolik adalah mengatasi penyakit dasarnya (misalnya perfusi jaringan pada asidosis laktat, atau insulin pada Ketoasidosis Diabetik). Koreksi dengan Natrium Bikarbonat (NaHCO3) umumnya dihindari kecuali pada kondisi asidosis yang berat atau pada kondisi non-anion gap metabolic acidosis (hilangnya bikarbonat melalui gastrointestinal atau ginjal).

Berikut adalah pedoman perhitungan dan pemberian koreksi bikarbonat:

1. Indikasi Pemberian

Pemberian bikarbonat diindikasikan secara umum jika:

a. pH darah < 7.10 - 7.15.

b. Kadar HCO3- serum < 6 – 8 mEq/L.

    Pada kasus Ketoasidosis Diabetik (KAD),
    panduan umumnya jauh lebih ketat (biasanya baru diberikan jika pH < 6.90).

c. Pada pasien dengan Asidosis Uremik atau Renal Tubular Acidosis (RTA).


2. Rumus Perhitungan Defisit Bikarbonat

Untuk menghitung kebutuhan koreksi, gunakan rumus berikut:


Defisit HCO3- (mEq) = 0.5 * BB/(kg) * (Target HCO3 - Aktual HCO3)


Konstanta distribusi bikarbonat. Angka standar yang sering digunakan adalah 0.5 (50% dari total berat badan). 

Target HCO3- :  Jangan pernah menargetkan angka normal (24 mEq/L). Targetkan pada batas aman (biasanya 10 – 12 mEq/L) untuk meminimalisir risiko overshoot alkalosis.

HCO3- aktual: Nilai bikarbonat pasien saat ini dari hasil Analisa Gas Darah (AGD).


3. Prinsip Pemberian (Resusitasi Fase Akut)

Di Indonesia, sediaan yang paling umum digunakan adalah vial Natrium Bikarbonat 8,4% (Meylon), di mana setiap 1 mL setara dengan 1 mEq NaHCO3.

Pemberian Bertahap

a. Berikan 50% (setengah) dari total defisit yang sudah dihitung sebagai dosis awal.

b. Kecepatan Pemberian: Jangan diberikan secara bolus cepat kecuali pada kondisi cardiac arrest. Berikan melalui infus lambat (drip) selama 2 hingga 4 jam. Meylon sering kali diencerkan dengan Dextrose 5% atau Aqua Bidestilata untuk mengurangi hiperosmolaritasnya.

c. Re-evaluasi: Setelah setengah dosis masuk, wajib melakukan pengecekan ulang Analisis Gas Darah (AGD) atau blood gas. Jika pH sudah aman (> 7,20), sisa dosis biasanya tidak diperlukan.


4. Komplikasi dan Perhatian Khusus

Pemberian NaHCO₃ memiliki risiko yang cukup besar, sehingga harus dimonitor ketat:

  • Asidosis Intraseluler Paradoksikal: Bikarbonat akan bereaksi dengan ion H⁺ membentuk H₂CO₃, yang kemudian pecah menjadi H₂O dan CO₂. Gas CO₂ ini sangat mudah menembus sawar darah otak dan masuk ke dalam sel, menyebabkan cairan serebrospinal (otak) dan intraseluler justru menjadi makin asidosis. Pasien harus memiliki ventilasi (pernapasan) yang baik untuk membuang CO₂.

  • Hipokalemia: Koreksi asidosis akan mendorong kalium masuk kembali ke dalam sel, sehingga kadar kalium darah bisa drop tiba-tiba.

  • Hipernatremia dan Overload Cairan: Meylon 8,4% sangat hipertonik dan mengandung beban natrium yang tinggi.

  • Hipokalsemia: Alkalinisasi akut menurunkan kadar kalsium terionisasi, yang bisa memicu kejang atau tetani.


Thiamin dan Hipoglikemia | Tanya AI

bismillah.


peran thiamin (vit B1) pada hipoglikemia ?

Peran utama thiamin (Vitamin B1) pada kasus hipoglikemia (kadar gula darah sangat rendah) bukanlah untuk menaikkan gula darah itu sendiri, melainkan sebagai pelindung otak dari kerusakan saraf permanen saat pasien diberikan pengobatan glukosa.

Hubungan antara hipoglikemia, glukosa, dan thiamin sangat krusial dalam dunia medis, terutama pada pasien di Unit Gawat Darurat (UGD).


Peran Thiamin dalam Memecah Glukosa

Tubuh membutuhkan thiamin sebagai koenzim (katalisator) utama untuk memetabolisme karbohidrat (glukosa) menjadi energi. Tanpa thiamin yang cukup, otak dan sel tubuh tidak bisa memproses glukosa dengan benar, sehingga energi gagal terbentuk dan asam laktat menumpuk.

Bahaya Pemberian Glukosa Tanpa Thiamin

Ketika seseorang mengalami hipoglikemia parah hingga tidak sadar, tindakan penyelamatan utamanya adalah menyuntikkan cairan glukosa (seperti Dextrose) ke dalam pembuluh darah. Namun, ada bahaya tersembunyi bagi pasien yang kekurangan gizi atau pecandu alkohol kronis:

  • Pasien malnutrisi/alkoholisme biasanya memiliki cadangan thiamin yang sudah sangat menipis di otaknya.

  • Jika glukosa dosis tinggi masuk secara tiba-tiba, tubuh akan langsung berusaha memetabolismenya. Proses ini akan menguras habis sisa cadangan thiamin yang sangat sedikit tersebut.

  • Habisnya thiamin secara mendadak di otak menyebabkan kematian sel-sel saraf yang memicu sindrom Wernicke's Encephalopathy.

Ensefalopati Wernicke adalah kondisi darurat medis yang menyerang sistem saraf pusat akibat kekurangan thiamin (Vitamin B1) yang sangat parah. Jika tidak segera dikenali dan diobati, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan otak permanen atau bahkan kematian.

Dalam dunia medis, gejala kondisi ini paling mudah dikenali melalui tiga tanda utama yang disebut sebagai Trias Klasik Ensefalopati Wernicke.

  1. Perubahan Status Mental (Ensefalopati) Ini adalah gejala yang paling sering muncul. Pasien akan terlihat sangat kebingungan (linglung), mengalami disorientasi (tidak tahu sedang berada di mana atau hari apa), apatis (tidak peduli dengan lingkungan sekitar), hingga penurunan kesadaran atau koma dalam kasus yang parah.

  2. Gangguan Pergerakan Mata (Oftalmoplegia & Nistagmus) Kekurangan thiamin merusak saraf yang mengendalikan otot mata. Akibatnya, mata pasien bisa bergerak cepat dan tidak terkendali dari sisi ke sisi atau atas ke bawah (nistagmus). Pasien juga bisa mengalami kelumpuhan pada otot mata tertentu sehingga pandangannya ganda atau matanya terlihat juling.

  3. Kehilangan Keseimbangan (Ataksia) Pasien kehilangan kemampuan untuk mengoordinasikan gerakan otot, terutama pada kaki. Cara berjalannya menjadi sangat goyah, sempoyongan dengan langkah yang lebar, atau bahkan tidak mampu berdiri dan berjalan sama sekali tanpa bantuan.


"Trias Klasik". 

hanya sekitar 10-16%
pasien yang menunjukkan ketiga gejala secara bersamaan. Sering kali, pasien hanya menunjukkan satu atau dua gejala saja, sehingga kondisi ini sering tidak terdiagnosis.


Peringatan Penting: Jika Ensefalopati Wernicke tidak segera ditangani dengan suntikan thiamin dosis tinggi, kondisi ini akan berkembang menjadi Sindrom Korsakoff—sebuah komplikasi psikiatrik kronis di mana pasien kehilangan kemampuan untuk membentuk ingatan baru dan sering mengarang cerita (konfabulasi) untuk mengisi memori yang kosong.

Saturday

Neonatus | imunisasi Heptitis B

bismillah.


betulkah pemahaman saya, 

jika bayi lahir berat badan < 2000 gr lahir dari ibu dengan HbsAg(+) maka untuk mengurangi transmisi vertikal diberikan Hb0 dan HbIg, lalu diberikan lagi Hb1 1 bulan kemudian saat Berat badan > 2000 gr?


Pemahaman Anda hampir sepenuhnya tepat, namun ada satu koreksi penting terkait syarat pemberian dosis pada usia 1 bulan.

Berikut adalah tata laksana yang tepat berdasarkan pedoman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan standar medis internasional (CDC) untuk bayi dengan berat lahir < 2000 gram dari ibu HBsAg positif:

1. Saat Lahir (Dalam 12 Jam Pertama)

Benar, bayi harus segera diberikan Vaksin Hepatitis B (HB0) dan Hepatitis B Immunoglobulin (HBIg) secara bersamaan, disuntikkan pada dua sisi tubuh yang berbeda (misalnya paha kanan dan paha kiri).

Penting: Karena berat bayi < 2000 gram, respons antibodinya terhadap vaksin pertama ini dianggap belum optimal. Oleh karena itu, dosis HB0 yang diberikan saat lahir ini tidak dihitung ke dalam rangkaian dosis imunisasi dasar.

2. Pada Usia 1 Bulan (Dosis Pertama / HB1)

Vaksin Hepatitis B diberikan kembali sebagai dosis pertama (HB1) saat usia kronologis bayi mencapai 1 bulan.

Koreksi untuk pemahaman Anda: Anda tidak perlu menunggu berat badan bayi mencapai > 2000 gram di usia 1 bulan tersebut. Dosis ini tetap harus diberikan tepat pada usia 1 bulan, berapapun berat badannya saat itu.

(Syarat menunggu berat > 2000 gram hanya berlaku untuk bayi prematur yang lahir dari ibu dengan HBsAg negatif).

3. Jadwal Imunisasi Selanjutnya

Setelah usia 1 bulan, bayi tetap harus melengkapi 3 dosis imunisasi Hepatitis B dasar berikutnya (biasanya diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi/pentavalen seperti DPT-HB-Hib) sesuai jadwal nasional, yaitu pada usia:

  • 2 bulan

  • 3 bulan

  • 4 bulan

Sehingga, secara total bayi tersebut akan menerima 4 dosis vaksin Hepatitis B (termasuk dosis saat lahir).

Langkah Evaluasi (Sangat Disarankan)

Untuk memastikan protokol pencegahan transmisi vertikal ini berhasil, bayi perlu menjalani pemeriksaan darah untuk mengecek HBsAg dan Anti-HBs pada saat usianya mencapai 9 hingga 12 bulan. Tes ini bertujuan untuk memastikan bayi memiliki antibodi yang cukup dan terbukti tidak tertular Hepatitis B dari sang ibu.
 

Dosis Heparin pd NSTEMI

bismillah. Berapa dosis pemberian heparin perkgBB untuk pasien dg NSTEMI ? Dosis pemberian heparin pada pasien NSTEMI sangat bergantung pada...