Thursday

Ketofol | Ketamin - Propofol (tanya AI)

bismillah.


apa efek anestesia yang diharapkan dengan pemberian kombinasi ketamin dan propofol, dan berapa dosis yg dibutuhkan keduanya untuk tindakan intubasi dengan BB pasien 60 kg ?

Kombinasi ketamin dan propofol—sering disebut sebagai "Ketofol" dalam praktik klinis—semakin populer karena kedua obat ini memiliki efek yang saling melengkapi dan menyeimbangkan efek samping satu sama lain.

Berikut adalah efek yang diharapkan serta panduan dosis untuk pasien dengan berat badan (BB) 60 kg.

1. Efek Anestesia yang Diharapkan (Keuntungan Kombinasi)

Menggabungkan ketamin dan propofol menciptakan efek sinergis yang sangat menguntungkan saat induksi anestesi:

  • Kestabilan Hemodinamik (Tekanan Darah & Nadi Stabil): Ini adalah alasan utama penggabungan keduanya. Propofol dapat menyebabkan penurunan tekanan darah (hipotensi) dan pelebaran pembuluh darah. Sebaliknya, ketamin memicu pelepasan katekolamin yang menaikkan tekanan darah dan detak jantung (takikardia). Saat digabung, keduanya saling menetralkan, sehingga tekanan darah pasien tetap stabil selama intubasi.

  • Analgesia (Anti-nyeri) dan Hipnotik yang Optimal: Propofol sangat baik untuk membuat pasien tertidur (hipnotik/sedasi) tetapi tidak menghilangkan rasa sakit. Ketamin adalah obat pereda nyeri (analgesik) yang sangat kuat. Kombinasi ini memberikan sedasi yang dalam sekaligus menahan rasa sakit dari laringoskop saat intubasi.

  • Mengurangi Efek Samping Masing-masing Obat:

    • Mengurangi risiko henti napas (apnea) yang sering terjadi jika menggunakan propofol dosis tinggi sendirian.

    • Propofol menekan kejadian emergence delirium (halusinasi, mimpi buruk, atau gelisah saat bangun) yang merupakan efek samping umum dari ketamin.

    • Ketamin mengurangi rasa nyeri di lokasi suntikan yang sering disebabkan oleh propofol.

2. Dosis Ketamin dan Propofol untuk Pasien 60 kg

Karena efek sinergisnya, dosis masing-masing obat harus diturunkan secara signifikan dibandingkan jika diberikan secara tunggal. Pendekatan yang paling umum adalah memberikan dosis dalam rasio 1:1, biasanya sekitar 0,5 hingga 1 mg/kgBB untuk masing-masing obat.

Untuk pasien dengan BB 60 kg, perkiraan kebutuhan dosis induksinya adalah:

  • Ketamin: 0,5 – 1 mg/kgBB = 30 mg hingga 60 mg IV.

          [ sediaan 500 mg / 10 cc ] - dibutuhkan 0,3 cc - 1 cc


  • Propofol: 0,5 – 1 mg/kgBB = 30 mg hingga 60 mg IV.

  •        [ sediaan 200 mg / 20 cc ] - dibutuhkan 3 cc -5 cc


Cara Pemberian:
Obat ini dapat dicampur dalam satu spuit (Ketofol) atau diberikan secara terpisah dan berurutan. Obat diberikan secara perlahan (dititrasi) sambil menilai respons kesadaran pasien hingga rahang cukup rileks dan refleks bulu mata hilang.

Catatan Klinis untuk Intubasi: Meskipun Ketofol memberikan hipnosis dan analgesia yang sangat baik, kombinasi ini tidak melumpuhkan otot. Untuk memfasilitasi pemasangan pipa endotrakeal (intubasi) dengan mulus dan mencegah trauma pada pita suara, obat pelumpuh otot (muscle relaxant seperti Rocuronium atau Suxamethonium) tetap diberikan setelah pasien kehilangan kesadaran.


Praktek Intubasi | Evaluasi

bismillah.


Supervisi Intubasi dr.Karina SpAn

1. Pre-oksigenasi

2. 1 tangan kanan utk memposisikan kepala pasien tengadah. 

    sekaligus membuka mulut

3. posisikan lidah selalu di kiri blade.

    bs dibantu manual dg tangan.

4. siap intubasi -tampak plika vokalis

5. intubasi penempatan kedalaman Ett eq~ 3x nomer Ett

6. cek pengembangan dada simetris

7. posisikan ett di tepi sebelah kanan pasien

8. fiksasi minimal plester sepanjang kilan jempol ke kelingking

 




PONEK | Menilik sumber EBM

bismillah.


Kisi-kisi pelatihan PONEK :  

Berikut adalah rangkuman materi komprehensif mengenai topik-topik Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).

1. Continuing Professional Development (CPD)

CPD adalah proses pembelajaran berkelanjutan bagi tenaga kesehatan untuk memelihara, meningkatkan, dan memperluas pengetahuan serta keterampilan klinis. Dalam konteks PONEK, CPD memastikan dokter, bidan, dan perawat selalu memperbarui standar operasional prosedur (SOP) terkait kegawatdaruratan.

  • Prinsip Utama: Pelatihan rutin (seperti ALARM, ANLS, Resusitasi Neonatus), audit maternal-perinatal, dan re-sertifikasi.

  • Sitasi/Dasar Teori: World Health Organization (WHO). (2010). Transformative scale up of health professional education. serta Pedoman Penyelenggaraan PONEK 24 Jam di Rumah Sakit, Kemenkes RI.

2. Point of Care Quality Improvement (POCQI)

POCQI adalah pendekatan praktis untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan langsung di titik perawatan (fasilitas pelayanan) dengan menggunakan sumber daya yang ada tanpa harus menunggu intervensi eksternal berskala besar.

  • Prinsip Utama: Menggunakan siklus PDSA (Plan-Do-Study-Act). Contoh aplikasinya adalah mengurangi waktu tunggu operasi sesar emergensi atau meningkatkan persentase IMD (Inisiasi Menyusu Dini).

  • Sitasi/Dasar Teori: WHO. (2017). Point of Care Quality Improvement (POCQI) - Facilitator Manual.

3. Sepsis Neonatorum

Sepsis pada bayi baru lahir dibagi menjadi Early-Onset Sepsis (EOS, <72 jam, umumnya dari flora ibu) dan Late-Onset Sepsis (LOS, >72 jam, umumnya dari lingkungan/nosokomial).

  • Tata Laksana: Pemeriksaan kultur darah sebelum pemberian antibiotik. Terapi empiris untuk EOS biasanya menggunakan kombinasi Ampisilin dan Aminoglikosida (Gentamisin).

  • Sitasi/Dasar Teori: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2014). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Sepsis Neonatorum. dan Nelson Textbook of Pediatrics (21st Ed).

4. Resusitasi Neonatus

Tindakan penyelamatan bayi baru lahir yang tidak bernapas secara spontan dan adekuat.

  • Langkah Awal (HAI): Hangatkan, Posisikan kepala, Isap lendir (jika perlu), Keringkan, Rangsang taktil, Reposisi.

  • Ventilasi Tekanan Positif (VTP): Diberikan jika bayi apnea, megap-megap (gasping), atau denyut jantung < 100 kali/menit.

  • Kompresi Dada: Jika denyut jantung < 60 kali/menit setelah VTP efektif. Rasio kompresi dan ventilasi adalah 3:1.

  • Sitasi/Dasar Teori: American Heart Association (AHA) & American Academy of Pediatrics (AAP). (2020). Neonatal Resuscitation Program (NRP) 8th Edition.

5. Persalinan Prematur

Persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 hingga sebelum 37 minggu.

  • Tata Laksana Utama:

    • Tokolitik: Nifedipin untuk menunda persalinan sementara (48 jam).

    • Kortikosteroid Antenatal: Deksametason atau Betametason untuk pematangan paru janin (usia kehamilan 24-34 minggu).

    • Neuroproteksi: Magnesium Sulfat (MgSO4) diberikan jika ancaman persalinan < 32 minggu untuk mencegah cerebral palsy.

  • Sitasi/Dasar Teori: American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) Practice Bulletin No. 171. Management of Preterm Labor. serta Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) POGI.

6. Persalinan Sungsang

Presentasi bokong atau kaki janin di bagian bawah rahim. Memiliki risiko asfiksia, prolaps tali pusat, dan trauma lahir kepala.

  • Metode Persalinan: Per vaginam (menggunakan manuver Bracht, Lovset, Mauriceau-Smellie-Veit) hanya jika syarat terpenuhi (TBJ < 3500g, panggul luas, kepala janin fleksi). Seksio sesarea sering menjadi pilihan utama untuk primigravida.

  • Sitasi/Dasar Teori: ACOG Practice Bulletin No. 208. Management of Breech Presentation.

7. Trauma (Cedera) Lahir

Cedera mekanis yang dialami bayi selama proses persalinan.

  • Kondisi Umum: Caput succedaneum (edema melintasi sutura, sembuh sendiri), Cephalhematoma (perdarahan subperiosteal, tidak melintasi sutura), distosia bahu yang menyebabkan paralisis pleksus brakialis (Erb's palsy), dan fraktur klavikula.

  • Sitasi/Dasar Teori: Gomella's Neonatology, 8th Edition. Chapter: Birth Trauma.

8. Kegawatdaruratan Obstetrik

Kondisi mengancam nyawa ibu hamil/bersalin yang butuh intervensi segera.

  • Preeklampsia Berat/Eklampsia: Tata laksana profilaksis kejang dengan MgSO4 dan antihipertensi (Nifedipin/Metildopa).

  • Perdarahan Pascasalin (HPP): Prinsip 4T (Tone - atonia uteri, Tissue - sisa plasenta, Trauma - robekan jalan lahir, Thrombin - gangguan koagulasi). Uterotonika (oksitosin) sangat esensial.

  • Sitasi/Dasar Teori: WHO recommendations for the prevention and treatment of postpartum haemorrhage (2012). & PNPK Perdarahan Pascasalin, POGI.

9. Gawat Napas pada Neonatus

Kegagalan sistem pernapasan neonatus untuk menjaga pertukaran gas yang adekuat. Tanda klinis dinilai menggunakan Skor Downe atau Silverman-Anderson (retraksi, merintih, takipnea, sianosis).

  • Penyebab Sering: Transient Tachypnea of the Newborn (TTN), Respiratory Distress Syndrome (RDS - kekurangan surfaktan pada prematur), Meconium Aspiration Syndrome (MAS).

  • Tata Laksana: Bantuan oksigenasi (CPAP), pemberian surfaktan (untuk RDS), pengaturan suhu.

  • Sitasi/Dasar Teori: IDAI. (2014). Pedoman Pelayanan Medis: Gangguan Napas pada Bayi Baru Lahir.

10. Analgesia dan Anastesia Obstetrik

Manajemen nyeri untuk persalinan normal maupun tindakan operatif, dengan mempertimbangkan keselamatan janin.

  • Metode: Blok regional (Spinal/Epidural) lebih disukai untuk seksio sesarea karena risiko aspirasi dan hipoksia ibu lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Anestesi umum dilakukan pada kegawatdaruratan ekstrem (misal: perdarahan masif, gawat janin berat).

  • Sitasi/Dasar Teori: American Society of Anesthesiologists (ASA) Guidelines for Obstetric Anesthesia (2016).

11. Ensefalopati Iskemik Hipoksik (HIE)

Kerusakan otak neonatus akibat asfiksia perinatal (kekurangan oksigen dan aliran darah ke otak).

  • Diagnosis & Derajat: Menggunakan stadium Sarnat & Sarnat (Ringan, Sedang, Berat).

  • Tata Laksana Utama: Therapeutic Hypothermia (mendinginkan suhu tubuh bayi 33.5°C - 34.5°C selama 72 jam) dilakukan pada jendela waktu < 6 jam pascasalin untuk mengurangi cedera otak permanen.

  • Sitasi/Dasar Teori: International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR) guidelines.

12. Kelainan Bawaan Pada Bayi Baru Lahir

Mendeteksi dan melakukan stabilisasi awal pada kelainan kongenital sebelum dirujuk.

  • Kasus Kritis: Cacat tabung saraf (spina bifida), kelainan dinding perut (Omfalokel, Gastroskisis - tutup dengan plastik steril/kasa lembab), Atresia Ani, Kelainan Jantung Bawaan.

  • Sitasi/Dasar Teori: Nelson Textbook of Pediatrics, Chapter: Congenital Anomalies.

13. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan Penyulit

Bayi lahir < 2500 gram disertai penyulit seperti asfiksia, hipotermia, hipoglikemia, atau ikterus.

  • Tata Laksana: Perawatan Metode Kangguru (PMK/Kangaroo Mother Care) untuk stabilisasi suhu, pemantauan gula darah berkala, dan dukungan nutrisi (ASI perah atau OGT).

  • Sitasi/Dasar Teori: WHO guidelines on interventions to improve preterm birth outcomes (2015).

14. Pemberian Cairan dan Elektrolit Pada Neonatus

Fungsi ginjal neonatus belum sempurna; insensible water loss (IWL) bervariasi bergantung pada usia gestasi dan inkubator.

  • Prinsip Dasar: Hari pertama kehidupan biasanya hanya membutuhkan cairan dekstrosa 10% (sekitar 60-80 cc/kgBB/hari) tanpa elektrolit (karena masih fase kontraksi cairan ekstraseluler). Elektrolit (Na, K, Cl) ditambahkan mulai hari ke-2 atau ke-3 setelah dipastikan anak berkemih adekuat. Kebutuhan Glucose Infusion Rate (GIR) adalah 4-6 mg/kg/menit.

  • Sitasi/Dasar Teori: Gomella's Neonatology. Fluid and Electrolyte Management.

15. Elektronik Fetal Monitoring (EFM) dan Gawat Janin

Pemantauan denyut jantung janin (DJJ) menggunakan Kardiotokografi (CTG) untuk menilai kesejahteraan janin intrapartum.

  • Parameter: Baseline DJJ (110-160 dpm), Variabilitas, Akselerasi, dan Deselerasi.

  • Mnemonic VEAL CHOP:

    • Variable deceleration -> Cord compression (Tali pusat tertekan)

    • Early deceleration -> Head compression (Kepala tertekan - normal)

    • Acceleration -> OK (Sehat)

    • Late deceleration -> Placental insufficiency (Gawat Janin / insufisiensi plasenta) - Indikasi terminasi!

  • Sitasi/Dasar Teori: ACOG Practice Bulletin No. 106. Intrapartum Fetal Heart Rate Monitoring: Nomenclature, Interpretation, and General Management Principles.

16. Pengelolaan Persalinan dengan Menggunakan Partograf

Partograf adalah alat bantu grafis untuk memantau kemajuan persalinan kala I secara terintegrasi (kondisi ibu, kondisi janin, kemajuan persalinan).

  • Komponen Kritis: Garis Waspada (Alert Line) dan Garis Bertindak (Action Line). Jika pembukaan serviks memotong garis waspada, harus dilakukan evaluasi ketat; jika menyentuh garis bertindak, intervensi medis/rujukan wajib segera dilakukan.

  • Sitasi/Dasar Teori: WHO. (2018). WHO recommendations: intrapartum care for a positive childbirth experience. serta Buku Acuan Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR) Depkes RI.

17. Persiapan dan Pengorganisasian PONEK 24 Jam di Faskes

PONEK bertujuan menyediakan pelayanan gawat darurat obstetri dan neonatal yang siap sedia 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

  • Prinsip Pengorganisasian:

    • Tim Multidisiplin: Dokter Sp.OG, Dokter Sp.A, Dokter Anestesi, Bidan, Perawat terlatih.

    • Infrastruktur & Penunjang: Ruang bersalin IGD, Ruang operasi 24 jam sedia dalam 30 menit (response time), ketersediaan darah (BDRS) 24 jam, farmasi 24 jam, dan NICU.

    • Sistem Rujukan: Menggunakan prinsip BAKSOKU (Bidan/Alat/Keluarga/Surat/Obat/Kendaraan/Uang).

  • Sitasi/Dasar Teori: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Pedoman Penyelenggaraan PONEK 24 Jam di Rumah Sakit.



teringat laporan / case-report RSMKT (cek utk pembelajaran )

Tuesday

Nomogram Heparin (titrasi dosis)

bismillah.


Apa itu tes aPTT dan bagaimana cara dokter menggunakan nilai aPTT untuk menaikkan atau menurunkan dosis infus heparin?

aPTT (activated Partial Thromboplastin Time) adalah sebuah tes laboratorium yang mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan (dalam hitungan detik) agar darah Anda membeku. Tes ini secara khusus mengevaluasi protein-protein dalam darah yang dipengaruhi oleh obat Unfractionated Heparin (UFH).

Pada orang normal yang tidak menerima terapi pengencer darah, darah biasanya membeku dalam waktu sekitar 25 hingga 35 detik.

Target aPTT untuk Pasien Jantung

Ketika pasien NSTEMI atau STEMI diberikan infus heparin, dokter tidak ingin darah pasien kembali normal (karena bisa menyumbat jantung lagi), tetapi juga tidak ingin darah menjadi terlalu encer (karena bisa menyebabkan perdarahan fatal).

Oleh karena itu, dokter mengejar "Jendela Terapeutik" (rentang target). Target aPTT yang ideal selama terapi heparin adalah sekitar 1,5 hingga 2,5 kali lipat dari nilai normal, yaitu sekitar 50 hingga 70 detik (angka pastinya bisa sedikit berbeda tergantung standar kalibrasi laboratorium setiap rumah sakit).

Bagaimana Cara Dokter Menyesuaikan Dosisnya?

Karena respons tubuh setiap orang terhadap heparin berbeda-beda, pemberian UFH tidak bisa "sekali atur lalu ditinggal". Perawat akan mengambil sampel darah pasien setiap 6 jam sejak infus dimulai atau setiap ada perubahan dosis.

Hasil tes tersebut kemudian dicocokkan dengan sebuah panduan medis yang disebut Nomogram Heparin. Berikut adalah contoh sederhana bagaimana penyesuaian (titrasi) tersebut dilakukan:


Mengapa ini penting? Pemantauan aPTT yang ketat ini adalah alasan utama mengapa pasien yang menerima infus Unfractionated Heparin (UFH) harus dirawat di ruangan khusus seperti ICU atau ICCU, di mana perawat dan dokter dapat memantau alat infus dan hasil laboratorium selama 24 jam penuh.


Ketofol | Ketamin - Propofol (tanya AI)

bismillah. apa efek anestesia yang diharapkan dengan pemberian kombinasi ketamin dan propofol, dan berapa dosis yg dibutuhkan keduanya untuk...