bismillah
bagaimana prinsip menghitung dan pemberian koreksi bikarbonat pada pasien dengan asidosis metabolik ?
Prinsip utama dalam tatalaksana asidosis metabolik adalah mengatasi penyakit dasarnya (misalnya perfusi jaringan pada asidosis laktat, atau insulin pada Ketoasidosis Diabetik). Koreksi dengan Natrium Bikarbonat (NaHCO3) umumnya dihindari kecuali pada kondisi asidosis yang berat atau pada kondisi non-anion gap metabolic acidosis (hilangnya bikarbonat melalui gastrointestinal atau ginjal).
Berikut adalah pedoman perhitungan dan pemberian koreksi bikarbonat:
1. Indikasi Pemberian
Pemberian bikarbonat diindikasikan secara umum jika:
a. pH darah < 7.10 - 7.15.
b. Kadar HCO3- serum < 6 – 8 mEq/L.
Pada kasus Ketoasidosis Diabetik (KAD),
panduan umumnya jauh lebih ketat (biasanya baru diberikan jika pH < 6.90).
c. Pada pasien dengan Asidosis Uremik atau Renal Tubular Acidosis (RTA).
2. Rumus Perhitungan Defisit Bikarbonat
Untuk menghitung kebutuhan koreksi, gunakan rumus berikut:
Konstanta distribusi bikarbonat. Angka standar yang sering digunakan adalah 0.5 (50% dari total berat badan).
Target HCO3- : Jangan pernah menargetkan angka normal (24 mEq/L). Targetkan pada batas aman (biasanya 10 – 12 mEq/L) untuk meminimalisir risiko overshoot alkalosis.
HCO3- aktual: Nilai bikarbonat pasien saat ini dari hasil Analisa Gas Darah (AGD).
3. Prinsip Pemberian (Resusitasi Fase Akut)
Di Indonesia, sediaan yang paling umum digunakan adalah vial Natrium Bikarbonat 8,4% (Meylon), di mana setiap 1 mL setara dengan 1 mEq NaHCO3.
Pemberian Bertahap:
a. Berikan 50% (setengah) dari total defisit yang sudah dihitung sebagai dosis awal.
b. Kecepatan Pemberian: Jangan diberikan secara bolus cepat kecuali pada kondisi cardiac arrest. Berikan melalui infus lambat (drip) selama 2 hingga 4 jam. Meylon sering kali diencerkan dengan Dextrose 5% atau Aqua Bidestilata untuk mengurangi hiperosmolaritasnya.
c. Re-evaluasi: Setelah setengah dosis masuk, wajib melakukan pengecekan ulang Analisis Gas Darah (AGD) atau blood gas. Jika pH sudah aman (> 7,20), sisa dosis biasanya tidak diperlukan.
4. Komplikasi dan Perhatian Khusus
Pemberian NaHCO₃ memiliki risiko yang cukup besar, sehingga harus dimonitor ketat:
Asidosis Intraseluler Paradoksikal: Bikarbonat akan bereaksi dengan ion H⁺ membentuk H₂CO₃, yang kemudian pecah menjadi H₂O dan CO₂. Gas CO₂ ini sangat mudah menembus sawar darah otak dan masuk ke dalam sel, menyebabkan cairan serebrospinal (otak) dan intraseluler justru menjadi makin asidosis. Pasien harus memiliki ventilasi (pernapasan) yang baik untuk membuang CO₂.
Hipokalemia: Koreksi asidosis akan mendorong kalium masuk kembali ke dalam sel, sehingga kadar kalium darah bisa drop tiba-tiba.
Hipernatremia dan Overload Cairan: Meylon 8,4% sangat hipertonik dan mengandung beban natrium yang tinggi.
Hipokalsemia: Alkalinisasi akut menurunkan kadar kalsium terionisasi, yang bisa memicu kejang atau tetani.
No comments:
Post a Comment