bismillah.
Kisi-kisi pelatihan PONEK :
Berikut adalah rangkuman materi komprehensif mengenai topik-topik Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
1. Continuing Professional Development (CPD)
CPD adalah proses pembelajaran berkelanjutan bagi tenaga kesehatan untuk memelihara, meningkatkan, dan memperluas pengetahuan serta keterampilan klinis. Dalam konteks PONEK, CPD memastikan dokter, bidan, dan perawat selalu memperbarui standar operasional prosedur (SOP) terkait kegawatdaruratan.
Prinsip Utama: Pelatihan rutin (seperti ALARM, ANLS, Resusitasi Neonatus), audit maternal-perinatal, dan re-sertifikasi.
Sitasi/Dasar Teori: World Health Organization (WHO). (2010). Transformative scale up of health professional education. serta Pedoman Penyelenggaraan PONEK 24 Jam di Rumah Sakit, Kemenkes RI.
2. Point of Care Quality Improvement (POCQI)
POCQI adalah pendekatan praktis untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan langsung di titik perawatan (fasilitas pelayanan) dengan menggunakan sumber daya yang ada tanpa harus menunggu intervensi eksternal berskala besar.
Prinsip Utama: Menggunakan siklus PDSA (Plan-Do-Study-Act). Contoh aplikasinya adalah mengurangi waktu tunggu operasi sesar emergensi atau meningkatkan persentase IMD (Inisiasi Menyusu Dini).
Sitasi/Dasar Teori: WHO. (2017). Point of Care Quality Improvement (POCQI) - Facilitator Manual.
3. Sepsis Neonatorum
Sepsis pada bayi baru lahir dibagi menjadi Early-Onset Sepsis (EOS, <72 jam, umumnya dari flora ibu) dan Late-Onset Sepsis (LOS, >72 jam, umumnya dari lingkungan/nosokomial).
Tata Laksana: Pemeriksaan kultur darah sebelum pemberian antibiotik. Terapi empiris untuk EOS biasanya menggunakan kombinasi Ampisilin dan Aminoglikosida (Gentamisin).
Sitasi/Dasar Teori: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2014). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Sepsis Neonatorum. dan Nelson Textbook of Pediatrics (21st Ed).
4. Resusitasi Neonatus
Tindakan penyelamatan bayi baru lahir yang tidak bernapas secara spontan dan adekuat.
Langkah Awal (HAI): Hangatkan, Posisikan kepala, Isap lendir (jika perlu), Keringkan, Rangsang taktil, Reposisi.
Ventilasi Tekanan Positif (VTP): Diberikan jika bayi apnea, megap-megap (gasping), atau denyut jantung < 100 kali/menit.
Kompresi Dada: Jika denyut jantung < 60 kali/menit setelah VTP efektif. Rasio kompresi dan ventilasi adalah 3:1.
Sitasi/Dasar Teori: American Heart Association (AHA) & American Academy of Pediatrics (AAP). (2020). Neonatal Resuscitation Program (NRP) 8th Edition.
5. Persalinan Prematur
Persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 hingga sebelum 37 minggu.
Tata Laksana Utama:
Tokolitik: Nifedipin untuk menunda persalinan sementara (48 jam).
Kortikosteroid Antenatal: Deksametason atau Betametason untuk pematangan paru janin (usia kehamilan 24-34 minggu).
Neuroproteksi: Magnesium Sulfat (MgSO4) diberikan jika ancaman persalinan < 32 minggu untuk mencegah cerebral palsy.
Sitasi/Dasar Teori: American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) Practice Bulletin No. 171. Management of Preterm Labor. serta Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) POGI.
6. Persalinan Sungsang
Presentasi bokong atau kaki janin di bagian bawah rahim. Memiliki risiko asfiksia, prolaps tali pusat, dan trauma lahir kepala.
Metode Persalinan: Per vaginam (menggunakan manuver Bracht, Lovset, Mauriceau-Smellie-Veit) hanya jika syarat terpenuhi (TBJ < 3500g, panggul luas, kepala janin fleksi). Seksio sesarea sering menjadi pilihan utama untuk primigravida.
Sitasi/Dasar Teori: ACOG Practice Bulletin No. 208. Management of Breech Presentation.
7. Trauma (Cedera) Lahir
Cedera mekanis yang dialami bayi selama proses persalinan.
Kondisi Umum: Caput succedaneum (edema melintasi sutura, sembuh sendiri), Cephalhematoma (perdarahan subperiosteal, tidak melintasi sutura), distosia bahu yang menyebabkan paralisis pleksus brakialis (Erb's palsy), dan fraktur klavikula.
Sitasi/Dasar Teori: Gomella's Neonatology, 8th Edition. Chapter: Birth Trauma.
8. Kegawatdaruratan Obstetrik
Kondisi mengancam nyawa ibu hamil/bersalin yang butuh intervensi segera.
Preeklampsia Berat/Eklampsia: Tata laksana profilaksis kejang dengan MgSO4 dan antihipertensi (Nifedipin/Metildopa).
Perdarahan Pascasalin (HPP): Prinsip 4T (Tone - atonia uteri, Tissue - sisa plasenta, Trauma - robekan jalan lahir, Thrombin - gangguan koagulasi). Uterotonika (oksitosin) sangat esensial.
Sitasi/Dasar Teori: WHO recommendations for the prevention and treatment of postpartum haemorrhage (2012). & PNPK Perdarahan Pascasalin, POGI.
9. Gawat Napas pada Neonatus
Kegagalan sistem pernapasan neonatus untuk menjaga pertukaran gas yang adekuat. Tanda klinis dinilai menggunakan Skor Downe atau Silverman-Anderson (retraksi, merintih, takipnea, sianosis).
Penyebab Sering: Transient Tachypnea of the Newborn (TTN), Respiratory Distress Syndrome (RDS - kekurangan surfaktan pada prematur), Meconium Aspiration Syndrome (MAS).
Tata Laksana: Bantuan oksigenasi (CPAP), pemberian surfaktan (untuk RDS), pengaturan suhu.
Sitasi/Dasar Teori: IDAI. (2014). Pedoman Pelayanan Medis: Gangguan Napas pada Bayi Baru Lahir.
10. Analgesia dan Anastesia Obstetrik
Manajemen nyeri untuk persalinan normal maupun tindakan operatif, dengan mempertimbangkan keselamatan janin.
Metode: Blok regional (Spinal/Epidural) lebih disukai untuk seksio sesarea karena risiko aspirasi dan hipoksia ibu lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Anestesi umum dilakukan pada kegawatdaruratan ekstrem (misal: perdarahan masif, gawat janin berat).
Sitasi/Dasar Teori: American Society of Anesthesiologists (ASA) Guidelines for Obstetric Anesthesia (2016).
11. Ensefalopati Iskemik Hipoksik (HIE)
Kerusakan otak neonatus akibat asfiksia perinatal (kekurangan oksigen dan aliran darah ke otak).
Diagnosis & Derajat: Menggunakan stadium Sarnat & Sarnat (Ringan, Sedang, Berat).
Tata Laksana Utama: Therapeutic Hypothermia (mendinginkan suhu tubuh bayi 33.5°C - 34.5°C selama 72 jam) dilakukan pada jendela waktu < 6 jam pascasalin untuk mengurangi cedera otak permanen.
Sitasi/Dasar Teori: International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR) guidelines.
12. Kelainan Bawaan Pada Bayi Baru Lahir
Mendeteksi dan melakukan stabilisasi awal pada kelainan kongenital sebelum dirujuk.
Kasus Kritis: Cacat tabung saraf (spina bifida), kelainan dinding perut (Omfalokel, Gastroskisis - tutup dengan plastik steril/kasa lembab), Atresia Ani, Kelainan Jantung Bawaan.
Sitasi/Dasar Teori: Nelson Textbook of Pediatrics, Chapter: Congenital Anomalies.
13. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan Penyulit
Bayi lahir < 2500 gram disertai penyulit seperti asfiksia, hipotermia, hipoglikemia, atau ikterus.
Tata Laksana: Perawatan Metode Kangguru (PMK/Kangaroo Mother Care) untuk stabilisasi suhu, pemantauan gula darah berkala, dan dukungan nutrisi (ASI perah atau OGT).
Sitasi/Dasar Teori: WHO guidelines on interventions to improve preterm birth outcomes (2015).
14. Pemberian Cairan dan Elektrolit Pada Neonatus
Fungsi ginjal neonatus belum sempurna; insensible water loss (IWL) bervariasi bergantung pada usia gestasi dan inkubator.
Prinsip Dasar: Hari pertama kehidupan biasanya hanya membutuhkan cairan dekstrosa 10% (sekitar 60-80 cc/kgBB/hari) tanpa elektrolit (karena masih fase kontraksi cairan ekstraseluler). Elektrolit (Na, K, Cl) ditambahkan mulai hari ke-2 atau ke-3 setelah dipastikan anak berkemih adekuat. Kebutuhan Glucose Infusion Rate (GIR) adalah 4-6 mg/kg/menit.
Sitasi/Dasar Teori: Gomella's Neonatology. Fluid and Electrolyte Management.
15. Elektronik Fetal Monitoring (EFM) dan Gawat Janin
Pemantauan denyut jantung janin (DJJ) menggunakan Kardiotokografi (CTG) untuk menilai kesejahteraan janin intrapartum.
Parameter: Baseline DJJ (110-160 dpm), Variabilitas, Akselerasi, dan Deselerasi.
Mnemonic VEAL CHOP:
Variable deceleration -> Cord compression (Tali pusat tertekan)
Early deceleration -> Head compression (Kepala tertekan - normal)
Acceleration -> OK (Sehat)
Late deceleration -> Placental insufficiency (Gawat Janin / insufisiensi plasenta) - Indikasi terminasi!
Sitasi/Dasar Teori: ACOG Practice Bulletin No. 106. Intrapartum Fetal Heart Rate Monitoring: Nomenclature, Interpretation, and General Management Principles.
16. Pengelolaan Persalinan dengan Menggunakan Partograf
Partograf adalah alat bantu grafis untuk memantau kemajuan persalinan kala I secara terintegrasi (kondisi ibu, kondisi janin, kemajuan persalinan).
Komponen Kritis: Garis Waspada (Alert Line) dan Garis Bertindak (Action Line). Jika pembukaan serviks memotong garis waspada, harus dilakukan evaluasi ketat; jika menyentuh garis bertindak, intervensi medis/rujukan wajib segera dilakukan.
Sitasi/Dasar Teori: WHO. (2018). WHO recommendations: intrapartum care for a positive childbirth experience. serta Buku Acuan Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR) Depkes RI.
17. Persiapan dan Pengorganisasian PONEK 24 Jam di Faskes
PONEK bertujuan menyediakan pelayanan gawat darurat obstetri dan neonatal yang siap sedia 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Prinsip Pengorganisasian:
Tim Multidisiplin: Dokter Sp.OG, Dokter Sp.A, Dokter Anestesi, Bidan, Perawat terlatih.
Infrastruktur & Penunjang: Ruang bersalin IGD, Ruang operasi 24 jam sedia dalam 30 menit (response time), ketersediaan darah (BDRS) 24 jam, farmasi 24 jam, dan NICU.
Sistem Rujukan: Menggunakan prinsip BAKSOKU (Bidan/Alat/Keluarga/Surat/Obat/Kendaraan/Uang).
Sitasi/Dasar Teori: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Pedoman Penyelenggaraan PONEK 24 Jam di Rumah Sakit.
No comments:
Post a Comment